Cerita Sex Run Away Part 2

Cerita Sex Run Away Part 2by adminon.Cerita Sex Run Away Part 2Run Away Part 2 “tar kalo gue nakal jangan protes ya…” “hush… jangan sekarang.” “bobo’ yuk…. Ngantuk banget ni…” Lagi perkataan arumi yang semakin membuat jantungku berdegub semakin kencang. “ka….???” “heeh….” “gue pelukin loe boleh gak ka…?” “iya…. Asal loe jangan ngiler aja…” Arumi lalu memiringkan tidurnya menghadap ke arahku, menyandarkan kepalanya di pundakku dan […]

tumblr_nislxjwhin1tttj14o1_1280 tumblr_nji9tc0GNJ1tttj14o4_500 tumblr_nji9tc0GNJ1tttj14o5_400Run Away Part 2

“tar kalo gue nakal jangan protes ya…”

“hush… jangan sekarang.”
“bobo’ yuk…. Ngantuk banget ni…” Lagi perkataan arumi yang semakin membuat jantungku berdegub semakin kencang.
“ka….???”

“heeh….”

“gue pelukin loe boleh gak ka…?”

“iya…. Asal loe jangan ngiler aja…”

Arumi lalu memiringkan tidurnya menghadap ke arahku, menyandarkan kepalanya di pundakku dan memeluk tubuhku. Dadanya tepat menempel dilengan kananku, sehingga aku bisa merasakan keras dan montoknya payudara arumi. Pikiran-pikiran mesum mulai menjalar kuat mempengaruhi nuraniku.

Tanpa bisa ditahan, si otong di bawah sana pelan-pelan mulai bangkit berdiri, bersiaga satu untuk kemungkinan sebuah agresi militer. Tak ku turuti segala godaan nafsu yang menjalariku itu, walau ku akui lama-lama aku tak kuat juga melawan semua ini, itu bukan gayaku.

“loe jangan horny ya ka….”

“enak aja jangan horny jangan horny…..”
“ni aja gue dah horny berat rum….”
“gue normal ni…”

“tahan ya ka…. Dika kan anak baik”

Lama aku tak bisa memejamkan mataku karena semua ini. Sekuat tenaga aku berusaha menguasai nafsu yang semakin kuat merasukiku. Sempat terlintas di benakku untuk mamaksanya melakukan itu. Bukankah dia sendiri yang telah memberikan kesempatan itu dengan mempersilahkan aku tidur di sini. Dan sekarang malah dia tidur sambil memelukku.

Tapi nuraniku berkata lain. Rasa ibaku akan segala penderitaannya mengalahkan sisi iblis jiwaku. Terlihat begitu damai paras ayunya tertidur memelukku. Alangkah jahatnya aku seandainya sampai hati memanfaatkan kelabilan jiwanya ini untuk kepuasan hasrat birahiku sesaat. Tak terasa akupun juga sudah ikut tertidur pulas bersamanya.

Pagi hari nya aku terbangun dari tidur dengan posisi yang sekarang aku juga memeluknya. Kami tidur dalam posisi berpelukan. Kedua kaki kami saling mengapit saling tumpang tindih. Kupandangi wajah ayunya yang tetap ayu bahkan semaki ayu walaupun sedang tertidur lelap. Kudaratkan sebuah kecupan sayang di kening arumi dengan masih memeluknya, bahkan semakin erat aku memeluk tubuh mungilnya. Ku usapkan tanganku mengelus punggungnya.

Usapanku pelan semakin nakal turun menjelajahi tubuhnya, semakin turun dan turun hingga sampai mendarat di bokong indahnya. Ku usapkan lembut jemariku di sana, di iringi dengan remasan-remasan kecil yang membuatnya terjaga dari tidurnya. Sudah lupa aku bahwa di luar kamar, mas karman dan mbak sri sudah sibuk beraktifitas. Pasti mereka curiga akan ketidak-beradaanku di tempat biasa, di tempat aku tidur seharusnya.

“eemmmmhhhh…. Dika…..”
“pagi….. oooaammm…..”
“pagi-pagi tangannya kok udah jelalatan sih….”
“nakal….” Kata arumi yang terjaga dari tidurnya dan mengetahui kenakalan tanganku.

Arumi tak berusaha menghentikan kenakalan-kenakalan tanganku itu, hanya sebuah cubitan kecil di pinggangku satu-satunya isyarat seolah penolakannya. Dia malah tersenyum dengan manis dan semakin mengeratkan pelukannya. Mungkin betul apa kata orang. Wanita yang benar-benar cantik akan kelihatan saat dia baru bangun tidur. Dan mungkin arumi lah salah satu dari sekian wanita cantik alami itu. Karena arumi tetep cantik, bahkan semakin bertambah cantik walaupun baru bangun tidur dengan masih dalam keadaan awut-awutan tanpa make-up.

“mupeng ya ka….???”

“e’eh…..”
“hehehehehe…..” jawabku cengengesan.

“gak boleh tau ka… bukan muhrim…” lagi-lagi senyum misterius itu tersungging di bibir manisnya.

Tak ku teruskan kenakalan jemariku. Tak ingin aku terjebak dalam situsi yang sangat membirahikan ini. Aku pun lalu bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar arumi. Sial bagiku….. saat aku keluar dari kamar arumi, aku berpapasan dengan mbak sri yang sedang mendandani kinanti anak gadisnya yang baru kelas 3 SD untuk berangkat kesekolah. Mbak sri hanya tersenyum mengetahui aku keluar dari kamar arumi. Bergegas aku ke kamar mandi dan menyegarkan tubuhku.

Tak terasa sudah hampir 3 minggu kami numpang di rumah mas karman dan mbak sri. Dan berarti juga sudah sebulanan aku dan arumi kenal dan bersama-sama. Hubunganku dengan arumi pun semakin intim saja bak sepasang kekasih. Omelan, cacian, dan omongan kasar ku pun sudah tak pernah keluar lagi dari mulutku, walaupun kadang kadang arumi masih sangat bawel, manja, dan super nyebelin.

Arumi juga sudah semakin akrab dengan mbak sri, bahkan juga dengan ibu-ibu tetangga. Dengan bulik sumi yang gendut tetangga depan tumah, dengan mbah nem yang sudah sepuh, mbah tun pemilik warung kelontong sebelah rumah, bu suro, budhe amin, mbak siti, yu parti, mbah gentho, yu suratmi dah masih banyak lagi ibu-ibu tetangga yang sudah akrab dengan arumi. Tak terkecuali juga dengan para bapak-bapak tetangga yang baru kali ini melihat ada wanita secantik arumi nyata, bukan dari tivi-tivi yang biasa mereka lihat.

Mereka semua sudah pada mengenal arumi. Mareka semua tau kisah pelarian arumi dari berita yang ramai di tivi-tivi. Tapi tak ada seorangpun yang membahas atau menanyakan tentang masalah ini kepada arumi. Barusaha mereka membuat arumi bahagia dan betah tinggal di sini, memberikan kasih sayang seorang ibu dan keluarga yang tidak arumi dapatkan dari ibunda dan keluarganya yang malah ingin menjualnya kepada seorang pengusaha kaya.

Keseharian arumi selama di sini selayaknya keseharian gadis-gadis desa pada umumnya. Biasa arumi bantu-bantu mbak sri di dapur, ikut belanja ke pasar, ngumpul-ngumpul dan ngrumpi bareng ibu-ibu tetangga, bahkan arumi pun kelihatan senang saat ikut mbak sri ke ladang dan sawah.

Akupun juga begitu. Setiap hari aku bantu-bantu mas karman di ladang dan sawah, ikut mamandikan sapi, memetik buah salak, dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan orang kampung pada umumnya yang aku lakukan.

Arumi suka bermain-main di kali yang tak jauh dari rumah, suka berlari-larian di pematang sawah bak seekor burung pipit yang ceria menyongsong cakrawala. Sering kami menyepi berdua untuk sekedar menenangkan diri di pinggir kali di atas batu besar, duduk-duduk santai di pematang sawah sekedar menikmati sunset, atau naik menjelajahi hutan menikmati keindahan alam.
Candi cetho, grojokan sewu, dan berbagai lokasi wisata yang ada di sekitar sini pun sudah kami jelajahi semua. Keintiman kami sudah seolah tak mungkin terpisahkan lagi, bahagia kami berada di sini bak sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Dan hampir selama tiga minggu itu pulalah setiap malam aku selalu tidur berdua dengan arumi. Walaupun aku masuk ke kamar arumi secara sembunyi-sembunyi, tapi aku tau pasti kalau mas karman dan mbak sri mengetahuinya. Dan selama itu pula mereka tidak pernah menegur atau membicarakan tentang itu. Sikap mereka pun juga tak berubah, masih seperti biasanya.

Biarpun tiap malam kami selalu tidur berdua, tapi kami belum sampai melakukan perbuatan itu. Paling hanya tidur berpelukan atau sebatas ciuman di kening dan pipi, serta kenakalan tanganku meraba-raba punggung, paha, bahkan nakal meremas-remas dan mengusapi bokongnya yang ternyata montok dan sekel itu. Semakin aku tau kesempurnaan sejati dari jiwa raga arumi, semakin aku mengaguminya.

Mungkinkah aku diam-diam telah jatuh hati padanya…???

Kulitnya yang putih halus mulus, kakinya yang jenjang dengan betis mbunting padi, bokongnya yang montok dan sekel, pinggangnya yang ramping, bahkan buah-dadanya yang montok dan bulat ukuran bh 34a yang kadang-kadang iseng aku remas saat kami sedang bercanda berdua di kamar sebelum tidur. Bukannya aku munafik. Tapi jujur, kenyataannya semua itu semakin menyiksaku.

Hampir aku tak kuat menahan keteguhan sedikit imanku yang masih tersisa. Kalau saja arumi tidak pernah bercerita kalau dia masih perawan, mungkin saja perbuatan itu sudah kami lakukan dari kemarin-kemarin. Mungkin saja aku sudah memaksanya atau memperkosanya.

Tapi aku berusaha menahan diriku untuk tidak melakukan perbuatan bejad itu. Perbuatan hina merenggut dan merampas kesucian dan kehormatan seorang gadis yang tengah di landa prahara dan sedang labil jiwanya. One agains… That’s not my style.

Pada suatu malam akhirnya perbuatan itu terjadi juga. Tapi sumpah…. Bukan aku yang memulainya atau memaksa arumi. Bahkan arumi lah yang memaksa dan memperkosa aku dengan keji tak ber prikemanusiaan.

Malam itu seperti biasanya, sebelum tidur kami terlebih dahulu berbincang-bincang mencurhatkan segala sesuatu dan bercanda mirip dengan sepasang suami-istri yang sedang sibuk berunding bagaimana caranya besok bisa makan dan membeli beras, atau gimana dengan nanti masa depan anak-anaknya. Seperti itu pulalah yang kita lakukan tiap malam sebelum tidur dan juga malam ini. Tentunya masih di selingi dengan tanganku yang jahil merayap nakal kemana-mana. Dan gilanya lagi, arumi membiarkan segala kenakalanku itu.

“ka…. Loe kok gak perkosa perkosa gue sih ka….?”
“mang loe gak nafsu ya tiap malam kita begini….?
“ato jangan jangan……”
“jangan jangan loe maho ya ka….???”
“hiiii….. sereeeemmm…..” kata arumi yang mulai lagi menggodaku.

“sembarangan loe kupret….”

“eits… eits… gak boleh ngomong kasar ama tuan putri…”
“inget janji ka….”
“kalo loe masih bandel juga…. Sono bobok di luar…”
“gak sudi gue bobok ama cowok barbar…” omel arumi karena umpatan yang keluar lagi dari mulutku.

“hehehehehe…. Gak mau….. di luar ngingiiiinn…..” jawabku sok imut.

“makanya jangan bandel…”
“pertanyaan gw tadi belon loe jawab… jawab ka…”
“andika yang terhormat gak nafsu apa tiap malam kita begini.???”
“mmmmmm….. gimana ya….”

“nafsu sih nafsu…. Gila apa gue gak nafsu.”
“horny berat malah….”
“tapi gue juga masih punya etika dan gengsi kali rum…”
“gak mau juga kali gue merenggut paksa kehormatan anak orang.”
“pencabulan itu namanya.”
“masa iya andika yang ganteng ini di tangkap polisi dan masuk penjara gara gara kasus pencabulan.”
“hancur dong reputasi gue sebagai cowok terlanjur ganteng, gak gaya banget deh….”
“kayak udah gak laku aja gue….”

“preeeetttt….. sok ke gantengan loe ka….”

“ya biariin…. Emang aslinya ganteng kan….”
“loe kan naksir kan ama gue rum…??? Hayoooo ngakuuu…..”

“hehehehe…. Asal loe mau potong rambut, kayaknya sih bisa di pertimbangkan.” Kata ayumi yang mulai lagi keluar kesongongannya.

Berani beraninya di menyinggung rambut keramat ku. Jangan sampe aja ni anak memprotes si boober kebanggaanku. Kalau sampai dia berani ngomongin atau nyela si boober kasayanganku, udah gak pikir panjang lagi, aku perkosa juga ni anak di sini saat ini juga.

“wheeits…. Gak bisa… rambut keramat warisan eyang suhu Ali Topan nie….”

“pundeeen kale keramat ka…..”
“ka…. Gue sebenernya horny berat loe ka tiap malam kita begini.”
“di tambah lagi tangan nakal loe yang jelalatan ke mana-mana.”
“tiap malem gue mati-matian tau nahan horny gue yang dah gak ketahan…”
“jadi nafsu berat tau gue ka… ampe basah nie…”

“apa’an yang basah…???” godaku memancing situasi.

“iiihh… ni anak culun amat sih…”
“ya udah deh… gue ajalah yang perkosa loe…”
“nungguin loe beraksi mah kelamaan…. Keburu karatan deh gue…” kata arumi sambil dia beranjak berdiri di atas ranjang.

Aku hanya diam memperhatikan setiap gerak-gerik arumi. Setelah berdiri, arumi lalu menyingkapkan rok daster warna orange dengan motif kembang kembang yang lagi-lagi bekas mbak sri. Terlihat di sana sebuah cd warna putih berenda yang menutupi gundukan memeknya yang ternyata njenong abis bak ikan lohan itu.

Tak hanya sebatas menyingkapkan roknya saja, ternyata arumi malah bablas menanggalkan daster yang di kenakannya itu sampai hanya menyisakan cd putih berenda yang melingkar di pinggul menutupi selangkangannya dan sebuah bh kuning gading. Dengan yakin dan di iringi sebuah senyuman genit ke arahku, arumi pun lalu melepas pengait bh kuning gading itu dan menanggalkanya. Bergaya bak seorang penari streeptis, arumi melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil meremas-remas halus buah-dada montoknya yang jujur semakin membuatku belingsatan karena nafsu.

Masih dengan goyangan bak penari streeptisnya, arumi lalu pelan-pelan mulai meraih cd yang di kenakannya, dan dengan-pelan juga dia mulai memelorotkan menanggalkan cd itu dan melemparkannya tepat ke mukaku. Sekarang arumi sudah benar-benar telanjang bulat.

Ku perhatikan setiap lekuk keindahan tubuh telanjang seorang artis yang berdiri telanjang di hadapanku ini. Seorang Arumi Bachsin yang lebih memilih kabur dari keluarganya dari pada di paksa di jodohkan dengan seorang pengusaha kaya asal kudus, kini malah telanjang bulat dan bergoyang ala striptisers di hadapanku.

Dengan bebas aku bisa menikmati keindahan raganya. Sepasang bukit payudara yang kencang membulat di dadanya dengan hiasan sepasang puting berwana kecoklatan di ujungnya. Pinggul dan perut yang kecil dan ramping tanpa ada timbunan lemak sedikitpun. Dan segundukan daging yang tercepit di tengah tengah selangkangannya dan bermahkotakan rimbunan tipis bulu-bulu jembut. Ooohhh… Sungguh sangat sempurna keindahan tubuh sang kembang perawan. Ingin rasanya aku melompat dan menerkam kemolekan raga itu.

Arumi semakin liar bergaya bak penari streeptis. Tangannya kini tak hanya bermain meremasi gundukan payudara di dadanya. Tangan kirinya kini telah merayap turun menjalari tubuhnya berujung di gundukan daging kewanitaan di sela-sela selangkangannya dan mengusap-usap penuh nafsu, penuh eroticity gundukan daging itu. Tubuhnya masih bergoyang ala goyangan penari streeptis yang erotis dengan pandangan mata genit dan lidah yang menjulur keluar bermain membasahi bibir tipisnya yang ranum kemerahan. Desahan pelan seolah sedang berbirahi tinggi pun tak luput juga dia keluarkan sebagai bumbu penyedap hidangan birahinya.
Dan selama arumi beraksi itu, selama itu pulalah aku masih hanya terdiam tidur menyandar di ranjang menikmati pertunjukan tarian striptis sang artis fenomenal yang sangat erotis.

“iiiihhhh…. Nyebelin banget sih….”
“gue dah capek-capek streptisan, loe nya masih nyante aja kayak gak ada apa-apa.”
“loe bisa gak sih ka berhenti nyebelin gitu..???”

Sebenarnya tanpa dia sadari, keterdiamanku adalah keterguncangan jiwaku dan masih belum bisa meyakini bahwa apa yang ada di hadapanku ini adalah nyata adanya. Belum bisa menerima bahwa ini bukanlah fatamorgana belaka.

Tak tahan lagi mungkin arumi dengan ketololan dan keculunanku. Dia pun lalu duduk bersimpuh di sampingku yang semakin mendekatkan pemandangan indah tubuhnya di kelopak mataku. Tangannya kemudian mulai nakal meraba-raba di pahaku dan berhenti tepat di selangkanganku.

Tepat di atas gundukan batang kejantananku yang sudah ngaceng berat dengan sempurna. Di usap-usapkan tangan halus mulus miliknya di batang kejantananku yang masih tertutup dengan celana kolor warna hitam. Tersenyum genit arumi, setelah tau bahwa ternyata aku yang sedari tadi diam tak merespon segala usaha rayuan berbisanya, ternyata kejantananku merespon positif godaan beracun itu.

“sok pura-pura gak perduli lagi….”
“eeh… gak taunya ngaceng juga….”
“sok munafik loe ka….” Katanya memperolok kejantananku yang ternyata merespon godaanya itu.

“hehehehehe….. tau tu si otong….”
“gak bisa di atur…. Gak punya etika tu anak…” Jawabku malu-malu.

“huuuuu…….. dasar loe…” katanya sambil menyentil manja kejantananku yang sedang ngaceng sekeras baja tempa itu.

Tanpa meminta ijin dan menunggu persetujuanku terlebih dahulu dari sang empunya, arumi penuh dengan nafsu birahi memelorotkan kolor hitam yang ku kenakan, melepasnya dari tubuhku sekalian dengan cd biru yang ku kenakan di baliknya dan melemparkannya lagi-lagi ke mukaku.

Langsung batang kejantananku yang berukuran sedang standart asia itu terpampang jelas di depan matanya. Kelihatan dengan agak ragu arumi meraih dan menggenggam batang kejantananku dan kelihatan sekali bahwa dia belum berpengalaman, masih hijau untuk urusan yang beginian. Di usap-usapkan pelan jempol jarinya di kepala kejantananku yang membuat aku mendelik keenakan.

Jujur… baru inilah onderdil kelelakianku di pegang seorang perempuan. Dan malam ini pulalah mungkin akhir perjalanan dari keperjakaanku.

“hihihihihi….. bentuknya lucu ya ka….”
“ada helm nya segala…. Mirip jamur…” Seringai manja arumi dengan sedikit bias malu.

“hehehehe…. Antik ya……..”
“loe kagak punya kan…???”

“ya nggak punyalah dodol…”
“gue mah punya nya ini.” Katanya sambil meraba selangkangannya sendiri.

“ini apa’an….?” Godaku.

“ini ni… ini….”

“iya… ini apa’an…”
“dari tadi ini-ini mulu….”

“ini ni ka…”
“memek….” Bisiknya lirih di kupingku dengan bias malu-malu.

“kalo yang loe pegang itu namanya apa…??? Godaku lagi.

“iiihhh… dika mah jahat… nggodain terus….”
“ini mah namanya kontol dika sayaaaang…” bisiknya pelan lagi manja di kupingku.

“kok kayaknya loe grogi gitu rum…?”

“ya iyalah ka….”
“kan baru kali ini gue tau dan pegang yang beginian.”

“sama rum… gue juga baru ini di pegangin kontol gue ama cewek rum.”
“loe cewek pertama yang berani-beraninya lancang mainin si joni.”

“sumpee loe gak bo’ong loe ka…???”
“berarti loe masih perawan juga dong…”
“gak rugi dong gue… imbang kita ka… satu-satu…”
“semenjak megangin ini kenapa memek gue jadi gatel ya ka…???” kata arumi sambil merayap naik dan duduk di selangkanganku.

Bibir kemaluannya tepat berada di atas batang kejantananku. Seperti sudah naluri, arumi pun langsung menggoyangkan pinggulnya maju mundur, menggesek-gesekkan batang kejantananku di bibir kemaluannya yang sudah sangat basah itu.
Dan lagi-lagi mungkin karena sudah terlalu di kuasai nafsu yang membuncah, tanpa konfirmasi dan ijin dari sang empunya arumi mengangkat sedikit bokongnya, meraih batang kejantananku dan di usap-usapkan di bibir kemaluannya. Di cucuk-cucukkan kepala kejantananku di bibir kemaluannya berusaha di masukkan kedalam lobang kewanitaannya yang masih sempit perawan itu.

“ttuu…ttu…tunggu rum….”
“loe dah yakin dengan ini rum….”
“pikir duluuu… jangan gegabah loe…”
“kehormatan loe… masa depan loe ini rum…” Kataku yang berusaha menghentikan aksi arumi itu.

Seperti tak mengindahkan cegahanku, arumi masih terus berusaha memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya. Setelah dengan usaha keras akhirnya ujung kejantananku berhasil masuk ke dalam lobang kemaluannya. Aku bisa merasakan betapa sempit, hangat, dan basahnya lobang kewanitaan arumi, walaupun baru kepala kemaluanku saja yang masuk ke dalam kewanitaannya. Bisa juga aku rasakan seperti ada sebuah penghalang yang seakan menahan batang kejantananku agar tak masuk lagi lebih dalam ke dalam sana.

Arumi menghela nafas panjang dan memejamkan mata seakan bersiap akan sesuatu. Setelah merasa dirinya siap, tanpa aba-aba dan dengan satu hentakan keras pinggulnya kebawah, akhirnya masuk juga kejantananku dengan sempurna menembus sang sekat penghalang, yang berarti telah tertembus dan akhir dari riwayat keperawanannya di ujung bilah kejantananku.

“eeeeeehhhh…… aaaeeeehhhhh…..”

Jreeeebbbb….. preeettt……

“aaaaaahhhhh…. Sssaak.. saakiiit kaaa….”
“eeeehhh…. Maass…massukk….”
“ooohhhhh…. Uusssshhh….” Rintih dan erangan kesakitan arumi terenggut keperawannya.

Sejenak arumi mendiamkan batang kejantananku menancap di dalam lobang kewanitaannya. Tubuhnya limbung ambruk menimpa dan memelukku. Sekilas ku lihat tangan kanannya meraba ke belahan pantatnya, dan menunjukkan sesuatu kepadaku.

“andika…. Keperawanan gue ka…..” katanya sambil menunjukkan jari tengahnya yang terlumur setitik daras segar keperawanannya.

“gila apa loe rum……”
“loe kagak mikir apa… masa depan loe itu rum….”

“ssssttt…. Gue ikhlas ka… gue ikhlas….” Katanya sambil menempelkan jari telunjuknya yang ternoda darah perawannya di bibirku, sehingga meninggalkan setitik bercak merah darah di situ.

Beberapa saat kami masih terdiam berpelukan dengan batang kejantananku yang masih menancap di dalam lobang kewanitaannya.

“masih sakit rum….???”

“iya ka… rasanya selangkangan gue kayak mo kebelah ka….”
“kontol loe kerasa banget ngeganjel sampe ke puser gue.”
“sumpah… rasanya… fantastis….”

Pelan aku pun mulai menggerakkan pinggulku, berusaha mengeluar-masukkan kemaluanku menyetubuhi arumi.

“stop ka….. jangan dulu… masih perih ka…” cegah arumi.

Kuturuti cegahan arumi itu, menunggu rasa sakit itu menghilang. Ku pandangi sejenak wajah ayunya yang tersandar di dadaku. Terlihat ada tetes bening air mata yang mengalir keluar dari sudut-sudut mata indahnya yang sedang terpejam. Semakin erat arumi memelukku dan semakin dalam arumi membenamkan kepalanya di dalam dekapanku.

“loe nangis rum…. Loe nyesel ya….???” Tanyaku akan air mata arumi itu.

Arumi hanya menjawab pertanyaaku ini dengan gelengan kepalanya yang berarti tidak. Tidak, tidak dia tidak menyesali ini.
Perlahan arumi bangkit dari dekapanku. Kembali dia duduk di selangkanganku, masih dengan batang kejantananku menancap di lobang kemaluannya yang sekarang malah masuk lebih dalam lagi ke dalam sana.

Pelan arumi mulai menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, mengeluar-masukkan batang kelelakianku di dalam lobang kemaluannya. Aku pun juga mengimbangi gerakan arumi itu dengan ikut juga menggerakkan pinggulku. Sambil menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, mata arumi terpejam menikmati resapan kenikmatan birahi yang tak terlukiskan. Sepertinya sudah hilang sama sekali rasa perih saat pertama kali kejantananku menusuk menjebol keperawanannya tadi, yang sekarang sudah berganti dengan kenikmatan yang teramat sangat dan fantastis.

Goyangan arumi semakin liar dan binal. Desahan, rintihan dan erangan mulai jelas terdengar seiring gerakan pinggulnya mengocok batang kejantananku yang tertancap di lobang kemaluannya. Jepitan lobang kewanitaannya terasa seakan melumat menghisap batang kejantananku.

“ooocchhhh….. mmmmhhh….. dik…ka…..”
“enak dik…… eeeehhhmmm…..”

Aku pun juga tak mau kalah. Tanganku pun mulai beraksi mengusap dan meremasi sepasang payudaranya yang bulat dan montok itu.

“dika sa…yang….. ooohh…. Yeaaaahhhhh…..” semakin keras desahan yang keluar dari mulut arumi.

“oooh…. Rum…. Jangan keras keras desahnya…..”
“mmmmhhh…. Ntar kedengeran mas karman ma mbak sri rum….”

Arumi seakan sudah tak bisa lagi mendengarkan peringatanku. Arumi masih saja mendesah dengan keras dan semakin menggoyangkan pinggulnya semakin cepat maju-mundur mengulek-ulek batang kejantananku yang tertancap di lobang kewanitaannya..

Tak mampu lagi aku mengimbangi keganasan arumi yang semakin binal menjadi itu. Sepertinya tak lama lagi aku akan menyerah. Tak mampu lagi aku menahan sensasi jepitan dan remasan dinding lobang kewanitaan arumi di batang kemaluanku. kemaluan arumi seakan menyedot-nyedot batang dan kepala kejantananku, melahirkan stimulasi erotis nikmat yang tak terbendung lagi.

Ku tarik tubuh telanjang arumi untuk jatuh lagi memeluk tubuhku. Aku sudah merasa tak kuat lagi. Kemaluanku yang sedang tertancap di lobang kewanitaannya dan di ulek-ulek di kocok keluar-masuk dengan liar itu sudah berkedut-kedut nikmat. Rasa nikmat menjalar dan berkumpul di ujungnya siap menembakkan segala kenikmatan birahi.

“rum… rum… sante aja rum… oohhh…..”
“gue gak kuat.. nie.. rum…. Ooohhh……”

Akhirnya aku tak mampu lagi menahan air-maniku untuk muncrat menghambur keluar. Ku peluk semakin erat tubuh mungil telanjang arumi yang ada di dekapanku.

“aaaaaahhh…. Rrruuummmmm……”
“gue keel…ooohh… gue keluaaaarr….”
“oooohhhh……”

Cret..creet…cret…creet…..

Tubuhku bergetar dengan hebat, dan batang kejantananku pun berkedut-kedut nikmat bersamaan dengan tumpahnya cairan kenikmatan dari ujung kepala kejantananku. Air-maniku tak mampu lagi aku tahan menyembur muncrat di dalam relung kewanitaan arumi, membuat kemaluan arumi semakin basah dan becek karena semprotan spermaku yang banyak, panas dan kental.
Seperti tak menghiraukan aku yang sudah terkapar terlebih dahulu, arumi masih menggoyang pinggulnya dengan liar. Masih mengocok mengeluar-masukkan batang kemaluanku dengan liar dan binalnya.

Sampai akhirnya…

Tubuh arumi pun bergetar dengan hebat dan semakin memeluk erat tubuhku. Dinding-dinding kemaluannya berkedut-kedut semakin kencang meremas-remas batang kejantananku yang sudah lunglai lemas tak berdaya di dalam lobang kewanitaannya.

“oooohhh….diikk…..dikaaa…..”
“emmmmhhhhh…..eeehhh……”
“rum…rum…rum….aaaahhh…….”
“ruum pi..pis ka….. aaaooooohhhhh yyeeeaaa…..”

Dan akhirnya setelah sebuah hentakan kasar yang semakin dalam membenamkan kemaluanku di dalam lobang kemaluannya, pelukan arumi yang erat mendekapku pun mulai melemah. Pinggulnya sudah berhenti bergoyang, dan hanya tinggal sesekali berkedut-kedut.
Tubuh kami berdua pun ternyata sudah basah dengan peluh dan keringat.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Arumi yang masih menindih tubuhku lemah tak berdaya, menyandarkan kepalanya di dadaku dengan mata terpejam. Nafasnya terengah-engah dengan jantungnya yang berdetak kencang.

Akupun juga begitu. Tubuhku lemah tak bertenaga dan sendi-sendi tubuhku seakan lolos tercerai-berai. Sepertinya aku tak sanggup lagi untuk berdiri atau bahkan hanya sekedar menggerakkan anggota badanku.

Setelah beberapa saat saling diam, tiba-tiba saja pinggul arumi mulai bergoyang lagi maju-mundur, mengocok lagi batang kemaluanku yang sudah lemas lunglai di dalam lobang kewanitaannya.

“udah rum…. Ampun rum…..”
“gue udah gak sanggup lagi…. Ampun…..” kataku berusaha menghentikan goyangan arumi.
Sungguh, beneran, sumpah, gw udah gak mampu lagi. Kalau di paksa di terusin mungkin aku akan tewas saat ini juga.

“kan dika belon….”
“gue goyang lagi ya ka…. Sekarang gentian dika yang keluar…”

“aduh rum… ampun gue rum…..”
“gue dah keluar rum….dah gak sanggup lagi gue….”
“udah ya sayang…. Kita istirahat ya…” bujukku kepada arumi.

Arumi lalu bangkit dari dekapanku dan merebahkan tubuhnya tidur terlentang di sampingku. Nafas kami masih terengah-engah kelelahan. Tersungging senyum manis di bibir arumi sambil memiringkan tubuhnya kembali memelukku dan menyadarkan kepalanya kembali di dadaku.

“heheheheh….. sayang dika udah ya…..”
“kok cepet ka….???”

“ngledek loe ya…..?”
“namanya juga baru pertama rum….”
“masih perlu banyak belajar lagi tau…”
“lagian loe sih… goyangannya liar bangeet… macan tau gak loe…” kataku mencoba beralasan karena malu sudah kalah duluan.

“abisnya enak banget sih ka… sumpah deh.”
“rasanya itu loh ka… gak bisa di omongin deh…”
“ajib banget… fantastis deh pokoknya…”
“by the way…dika makasih ya… ini hadiah ulang tahun terindah yang pernah gue dapetin.” Jawab arumi sambil memberitahukan bahwa hari ini dia sedang berulang tahun.

“emang loe lagi ulang tahun…?”
“emang sekarang tanggal berapa gitu…?”

“sekarangkan tanggal 19 februari ka, tepat hari ini gue berulang tahun..”
“malam ini gue udah genap 17 tahun, dan malam ini juga gue udah jadi wanita sejati seutuhnya.”
“makasih ya ka…. I love you… Muuuah…” kata arumi yang di akhiri dengan sebuah ciuman di bibirku.

“happy birthday ya arumi…”

“makasih andika sayang…. I love yau…”

Ku belai mesra rambut arumi penuh kasih sayang. Ku usap-usap juga punggungnya yang putih mulus itu. Sepertinya arumi sudah kembali tertidur memelukku. Mungkin saja arumi terlalu kelelahan setelah pertempuran perdana tadi sebagaimana aku.
Saat arumi tertidur di pelukanku, aku malah belum bisa memejamkan mataku.

Pikiranku melayang teringat akan cerita-cerita orang dan membandingkannya dengan aku yang hanya mampu beraksi sekali. Itupun aku kalah menyerah duluan.

“Gila… baru satu gaya aja gue dah kalah, dah kelabakan, dah ampun-ampun. Gimana kalo pake gaya gaya yang lain.”
“kok orang-orang bisa hebat banget ya….”
“yang katanya kuat ampe setengah jam lah, bahkan ada yang katanya kuat ampe sejam.”
“yang katanya ceweknya mampu keluar dua kali, tiga kali. Bahkan ada yang bercerita ampe delapan kali….”
“gila…. Kuat banget mereka…. orang apa kingkong itu ya….???” Kata batinku.

Tak terasa aku pun juga sudah tertidur lelap karena terlalu kelelahan. Malam itu kami berdua tidur berpelukan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi ketelanjangan kami. Sudah tak kami rasakan bahwa sajatinya udara mala mini sangatlah dingin menusuk tulang.

====================

Pagi harinya kami bangun kesiangan. Kami bangun saat jam sudah menunjukkan jam Sembilan pagi. Kulihat arumi masih tertidur pulas, masih dengan posisi memelukku.

“ruum… ruum…. Bangun sayang….”
“dah siang ni….” Kataku membangunkan arumi yang masih tertidur pulas itu.

“mmmhhh…. Oohh… apa yang…???”
“selamat pagi…”

“bangun rum…. Lihat tu… dah jam Sembilan.” Kataku sambil menunjuk jam dinding yang ada di kamar itu.

“waduuh gila…. Gimana ini ka…” jawab arumi kaget sambil buru-buru bangun dan berpakaian.

“tau dah gimana…..”

“mereka pasti tau dong ka kalo kita bobok bareng…???” kata arumi yang terlihat panik.

“apa lagi loe semalam ngrintihnya kenceng banget lagi.”
“pasti kedengeran lah ampe kamar mereka…”
“dah loe aja yang keluar duluan… santai aja… jangan panik.”
“yang terjadi terjadilah…” kataku mencoba menenangkan arumi.

Arumi hanya menjawab dengan anggukan kecil. Masih jelas terlukis raut panik di wajah ayunya.
Setelah bisa sedikit menenangkan dirinya, arumi pun lalu keluar dari kamar. Sementara aku masih di dalam kamar, aku keluar belakangan. Setelah menunggu beberapa saat mengintai suasana kondusif, akhirnya akupun menyusul keluar dari kamar arumi. Saat aku melewati dapur hendak ke kamar mandi yang letaknya di belakang rumah mas karman dan mbak sri itu, aku lihat arumi sedang berbincang bincang dengan mbak sri sambil bantu-bantu mbak sri memasak.

“bangune kesiangan ya rum….?” Tanya mbak sri.

“iya ni mbak… sorry ya…”
“dah numpang bangunnya siang lagi.” Jawab arumi.

“yo nggak opo-opo loh rum…”
“santai wae… anggep wae rumah arumi sendiri.”

“iya mbak sri… makasih….”
“rum jadi malu….”

“eh dika… sarapan wis siap dika….”
“sarapan disik gih….” Kata mbak sri menyuruhku sarapan.

“ntar dulu deh mbak….”
“dika mandi dulu deh…. Masa’ belum mandi dah makan sih…”

“yo uwis… bar mandi langsung sarapan yo…”
“kamu juga yo rum….”
“ngko bar nyiapi iki mbak sri mau ke sawah… nganterke sarapan buat mas karman.”

“ooh.. iya mbak.

Lalu akupun keluar ke kamar mandi.

“eh… ka… gue dulu yang mandi ya ka….”
“dika timbain ya…”

“wuenak aja…. Nimba sendiri lah…”

“yaaah… dika mah… capek ka…”

“bodo amat…” jawabku sambil terus nggeloyor keluar.

“eeehh…dikaa… ora boleh begitu sama perempuan itu.”
“kamukan cowok… yo kamu timbain lah ka…”
“kasian kan arumi kalo harus nimba sendiri…” sambung mbak sri menasehatiku.

“tuuu… dengerin apa kata mbak sri…”

“huuu… yang di belain…. Seneeeng….”

Aku pun akhirnya dengan terpaksa menimbakan air untuk mandi arumi. Sumur di rumah mas karman dan mbak sri ini belum pakai pompa air. Jadi tiap mau mandi atau mau ngapain aja harus nimba dulu dari sumur pakai timba kerekan.

Tak terlihat raut wajah aneh atau marah dari mbak sri. Padahal tidak mungkin kalau mbak sri dan mas karman tidak tau kalau kami semalam tidur berdua dan melakukan perbuatan suami-istri itu.

Sore harinya sehabis isya’, aku dan mas karman sedang asik bermain catur sambil ngobrol di ruang tengah di depan tivi. Sementara arumi sedang menemani kinanti mengerjakan PR sekolahnya di sebelah kami.

“kamu rencanane arep gi mana ka…?” tanya mas karman sambil bermain catur.

“ya gak tau lah mas… mungkin dika mau cari kerja mas.”
“eh.. bagi rokoknya ya mas.”

“yo ambil aja…”

Tak lama kemudian mbak sri keluar dari dapur sambil membawa tiga buah gelas di atas nampan. Yang dua gelas jelas berisi kopi buat aku dan mas karman. Sementara gelas yang satunya lagi entah berisi apa.

“iki jamu buat kamu rum… kamu minum yo…”
“ini jamu apik loh buat wanita… ramuan tradisional jowo.
“ngko tiap hari mbak bikinin jamu buat arumi, ben badan arumi tambah bagus tambah apik.” Kata mbak sri sambil menyerahkan gelas yang satunya yang ternyata isinya jamu buat arumi itu.

“jamu apa ini mbak sri…. Pait gak..???” Tanya arumi sambil menerima gelas berisi jamu dari mbak sri itu.

“jamu jowo rum…. Yo namane jamu yo pasti pait to rum”
“uwis cepet di minum… di habisin yo…”

Dengan terpaksa arumi minum jamu dari mbak sri itu. Walaupun dengan menutup hidung dan hampir muntah, terpaksa juga arumi habisin segelas jamu yang kayaknya super pahit itu.

Semenjak pengalaman pertama itu kami sering melakukannya lagi dan lagi. Kami merasa semakin bebas melakukan perbuatan suami istri itu, karena selama ini mas karman dan mbak sri tak pernah menegur kami ataupun menunjukkan sikap tidak suka. Mereka tak pernah membahas aku yang hampir tiap malam tidur sekamar dengan arumi atau menanyakan tentang kegaduhan yang terdengar dari kamar arumi. Bukannya mereka tidak tau, tapi mungkin mereka pura-pura tidak tau.

Sedangkan kami berdua bagaikan orang kesurupan yang sedang keranjingan di mabuk cinta. Hampir setiap hari kami selalu melakukannya lagi dan lagi. Sehari saja kami tidak melakukannya, kami sudah kelimpungan tak jelas. Terutama aku tentunya.
Tetap saja, kami tak bisa melakukannya tiap hari walaupun kami merasa bebas. Yang namanya perempuan pasti ada masanya menstruasi. Dan selama arumi menstruasi, selama itu jugalah kami harus libur berhubungan badan.

Dua minggu setelah pengalaman pertama itu, tamu bulanan arumi pun akhirnya datang juga. Hampir selama seminggu kami tidak bisa berhubungan badan. Rasanya lama sekali menunggu satu minggu sampai arumi selesai menstruasi. Setelah menunggu dengan tidak sabar, akhirnya menstruasi arumi pun berakhir juga.

Saat itu kami sedang berboncengan naik si boober habis dari pasar berbelanja.

“rum… udah belum….”

“gimana yaa…. Kasih tau gak ya….” Ledek arumi.

“ayolah rum… loe udahan belon mens nya….”
“dah gak kuat ni….”

“maruk amat sih ka…. Hehehehe…..”
“iya sayang…. Gue dah kelar mens nya…”
“seneeng…”

“yesss… asik.. tar malam ya rum….”

“ogah ah… males… capek gue…”

“iyaaah… arumi kok gitu sih… gak asik banget deh…”
“mau ya sayang…. Ya….???”
“pleaseee…. Ayo dong rum… kasihani gue yang ganteng ini…”
“jangan loe sia-siain kegantengan gue wahai nona arumi…”

“idiiihh… rayuan loe basi….”
“gak mutu tau gak loe ka….”
“loe emang ganteng tapi rusuh…”

“hehehehehe…. Namanya juga usaha… sah-sah aja kan…?”
“yauuk ah yang… mau ya…”
“arumi cantik deh…”

“yeeee… kok maksa sih…”
“ya udah deh… iyaaa… tar malem…”

“aseek… mantap mas bro… sip deh…”
“tar malam beneran ya rum… jangan bo’ong ya…”

“iyaaaaa….” Jawab arumi sambil semakin mengeratkan pelukannya di pinggangku.

Sesampainyaa di rumah arumi langsung masuk ke dapur menyerahkan belanjaan dapur itu ke mbak sri. Sedangkan aku langsung mencuci si boober kesayanganku. Aku tak mau sedikitpun si boober kotor.
Dengan tak sabar aku menunggu agar malam cepat datang dan kami bisa segera beraksi lagi.

Malam yang di tunggu pun akhirnya datang juga.

Jam 9 malam mas karman dan mbak sri sudah masuk dan tidur di kamar mereka. Tinggal aku dan arumi berdua di ruang tengah menonton tivi. Karena sudah tak sabar lagi, sejam kemudian kami pun juga masuk ke kamar kami, kamar jatah arumi lebih tepatnya.
Sesampainya di dalam kamar aku pun langsung menelanjangi diriku sendiri tanpa malu-malu lagi dengan arumi. Arumi pun tersenyum melihat ku yang sudah telanjang tak sabaran itu.

“idih… gak tau malu banget sih loe ka…”
“main telanjang seenaknya aja…”
“semprul kowe ka…”

“hehehehe… dah mana tahan atu rum…”
“ayuk ah… cepetan….”

“iyaa… ah… sabar dikit ngapa…”
“gak bakalan ada yang ngrebut juga kaleee….” Arumi pun akhirnya juga ikut menelanjangi dirinya sendiri.

Kemudian langsung aku peluk tubuh molek telanjang arumi tersebut dari belakang. Mengetahui itu, arumi kemudian membalikkan badannya menghadap ku dan langsung memagut bibir sambil berpelukan erat. kami berciuman liar sekali, lidah kami saling menjilat, saling menghisap, saling melilit bersahutan bertukaran ludah. Kami berdua seolah ingin membalas dendam kesumat setelah seminggu libur karena arumi sedang menstruasi.

Di tengah-tengah ciuman liar tersebut, pelan-pelan tangan ku mulai merayap turun ke bokong sexy arumi meremas-remas bokong montok nan sexy arumi. Karena merasa kurang nyaman dalam posisi berdiri, aku lalu menggendong tubuh arumi dan membaringkannya setengah membanting di ranjang. Sesampainya di ranjang kami kembali berpagutan liar sambil berpelukan, saling piting, saling banting.

Tangan ku juga mulai menggerayang nakal menjamah ke payudara arumi yang montok nan ranum membulat itu. Ku mainkan jemariku di situ, ku remas-remas gundukan payudara arumi sambil sesekali putingnya aku pelintir-pelintir gemas. Puas berpagutan aku lalu mengalihkan ciuman ku turun ke dada arumi. Ku kulum buah-dada arumi yang montok itu, sambil memainkan lidahku menghisap ujung putingnya yang mengeras.

Tangan ku juga bermain di selangkangan arumi. ku usap dan ku elus-elus belahan bibir kemaluan arumi yang sudah mulai basah sambil memainkan clitorisnya yang menyempil terjepit di dalam belahan bibir kewanitaan tersebut. Arumi mendesah, merintih, kelojotan keenakan karena aku permainkan clitorisnya.

“ eeehhh… oohhhh…. iyaaa yaang….”
“ohhh…. enak ka…….”
“tapi jang…an… masukin jari ya ka…..”
“arum…oooh…. Rum ggak ma..mau….”
“eeemmh…. Aahh….” Desah arumi sambil memeluk ku makin erat dan tangannya pun juga mulai nakal meremas remas bokong ku.

Ciuman ku kemudian turun keselangkangan arumi bachsin, menghisap gundukan daging kemaluan arumi itu sambil memainkan lidahku menggelitiki clitoris kecil arumi bachsin. Jilatan ku di clitorisnya membuat arumi menjadi semakin kelimpungan keenakan. Arumi yang sudah tak tahan lagi itu minta untuk segera di aku eksekusi.

“ooooohhhh…… eennaakkk….”
“udah yaaaang…. rum gak tahaaan… gak kuat lagi…”
“udah… udaah ka…. stooop….. aaahhh….”
“cep..et… ka… ayyuuk… aaayyhh….” rintih arumi yang sudah tak tahan lagi ingin segera merasakan nikmatnya bersebadanan kami.

Aku juga sudah tak tahan lagi, kemudian ku hentikan hisapan dan jilatanku di kemaluan arumi lalu ku posisikan tubuh dan pinggul ku tepat di tengah tengah kaki arumi yang sudah mengangkang. Ku mainkan sebentar kejantananku, ku gesek-gesekan sebentar kepala kejantananku di belahan bibir kemaluan arumi sambil tersenyum melihat arumi yang matanya sudah sayu karena birahi.

Mungkin karena sudah tak tahan lagi, arumi kemudian memegang kejantananku yang malah ku mainkan di bibir kemaluannya itu dan langsung mengarahkan kejantananku ke lobang kewanitaanya. Arumi mengapitkan kakinya dan menekan bokongku kebawah sambil menyambutnya dengan mengangkat pinggul dan bokongnya ke atas, sehingga kejantananku langsung masuk menusuk ke dalam lubang kewanitaannya.

blleeeeessss……… sleeep………..

“ooooohhhhh……..masuuuk…”
“iyaahh… ini enaakk…” desah arumi menikmati rojokan batang kelelakianku.

Aku diamkan kemaluannya yang sudah masuk ke dalam lobang kemaluan arumi tersebut. Aku ingin tau bagaimana reaksi selanjutnya dari seorang artis yang sedang di landa birahi.

“dikaaa……. ayoooo dong ka…..” rengek arumi minta di puasi birahinya.

“ayo apa rum……? tanyaku menggodanya.

“iiihhhh… dika mah… jahat…..”
“goyangin yang…… goyangin….”
“ayo ka…. arumi dah gak tahan ni…..”
“goyangin andikaaa…. Biar enak… ooohhh….”
“entotin atu ka… mmmmhhh….” rengek arumi sambil mengerak-gerakkan pinggulnya karena sudah tak sabar lagi menunggu tusukanku.

Akhirnya aku kasihan juga dan menuruti rengekan arumi yang sedang horny berat itu. Mulai ku goyangkan kemaluanku keluar-masuk lobang kemaluan arumi. Pertama-tama pelan makin lama makin cepat, makin keras dan makin liar.

Goyangan ku makin lama makin cepat, dengan sesekali di selingi tusukan dalam sehingga kemaluanku yang lumayan panjang tapi masih standart ukuran asia itu menusuk sampai relung kewanitaan arumi yang terdalam, yang semakin membuat arumi kelojotan merintih keenakan.

plok…plok…plok…plok….. bunyi selangkangan kami yang beradu karena goyangan kami yang semakin liar.

Erangan dan desahan arumi semakin keras, semakin liar dan semakin menjadi-jadi. Seolah arumi sudah tak memperdulikan lagi mas karman dan mbak sri yang tidur di kamar sebelah yang mungkin saja bisa mendengar erangan dan desahannya. Begitu juga dengan aku. Aku juga sudah lupa di mana posisi kami berada karena sudah terlanjur di kuasai oleh birahi.

“ooooohhhh….. ayyyyhhh…. teruuusss….”
“tusuk yang dalaam ka…. uuuhhh……..”
“iiaaaayyy….. iya gitu yang… aahhh…”
“eeehhh…..enak banget dika sayang…..”
“aaahhhh….. eeeemmhh…..” rintihan dan erangan kenikmatan arumi yang semakin menjadi.

“uuuuhhhh……”
“mantep rum…… enak aaaahh……”

Goyangan kami beradu kelaminpun semakin liar dan buas. Seprei ranjang yang menjadi arena kami berduapun menjadi acak-acakan awut-awutan gak karu-karuan.

Lumayan lama kami berpacu dalam nafsu birahi, sehingga tubuh kami berdua telah basah dengan peluh dan keringat yang bercucuran. Posisi kami pun juga telah berubah. Sekarang arumi yang berada di atas, mengangkangiku, dan memegang kendali atas ritme permainan kami.

Arumi menggerakkan pinggulnya maju-mundur, sambil sesekali di selingi goyangan kekiri dan kekanan, memutar, memelintir, dan mengocok batang kejantananku yang sedang menusuk di lobang kewanitaannya. Setelah beberapa lama bergoyang mengulek-ulek kejantananku, akhirnya setelah beberapa lama arumi sepertinya hampir sampai pada puncak kenikmatannya. Tubuhnya ambruk memelukku sambil melumat bibir dan mulutku.

Kembali kami berpagutan liar, dengan pinggul kami masih singkron bergoyang berirama senada.
Hampir pada saat yang bersamaan aku juga merasa sudah hampir tak kuat lagi menahan dorongan kenikmatan yang ingin menyembur nikmat keluar dari ujung kepala kejantananku.

Dengan agak kasar ku balik tubuh arumi dan kembali memegang kendali permainan. Bak cristiano ronaldo yang sedang mengutak-atik si kulit bundar, ku goyangkan pinggulku semakin cepat dan semakin liar penuh dengan skill dan trik-trik mumpuni yang baru aku kuasai. Sudah tak kuasa aku ingin segera mendapatkan kenikmatan surgawi itu.

“ooooohhhh….. jangan kasar ka…..”
“aaayyyhhh…. dikaa….. teruuus…..”
“arumi bentar lagi keluar yang…. ahhhh….eeeaaaahhhh….”

Author: 

Related Posts