Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] beberapa tahun yang Lalu – Part 24

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] beberapa tahun yang Lalu – Part 24by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] beberapa tahun yang Lalu – Part 24My HEROINE [by Arczre] – Part 24 BAB II: KUNOICHI #PoV Rina# beberapa tahun yang Lalu “Ryuuuuuu-kun!” panggilku ketika menyapa Ryu. Dia adalah sepupuku. Namaku Rina Takeda. Tak banyak yang mengetahui siapa aku sebenarnya selain anak sekolah biasa berdarah Ninja. Iya Ninja. Aku adalah dari klan Ninja Bayang Merah. “Nani te? Rina-chan?” sapa Ryu. Ryu […]

tumblr_nwfuonZEF21u03lrao6_400 tumblr_nwfuonZEF21u03lrao7_400 tumblr_nwfuonZEF21u03lrao8_400My HEROINE [by Arczre] – Part 24

BAB II: KUNOICHI

#PoV Rina#

beberapa tahun yang Lalu

“Ryuuuuuu-kun!” panggilku ketika menyapa Ryu. Dia adalah sepupuku. Namaku Rina Takeda. Tak banyak yang mengetahui siapa aku sebenarnya selain anak sekolah biasa berdarah Ninja. Iya Ninja. Aku adalah dari klan Ninja Bayang Merah.

“Nani te? Rina-chan?” sapa Ryu.

Ryu ini siapa sih? Dia adalah Ryu Matsumoto. Seorang keturunan Samurai. Kemana-mana dia selalu bawa pedang. Sayangnya aku tidak satu sekolah sama Ryu. Aku menemuinya di Dojo rumahnya. Di masih seperti biasanya berlatih keras. Pedangnya ia tebaskan ke depan, ke samping, lalu dengan gerak cepat ia tebaskan ke depan. Sampai-sampai aku bisa merasakan angin yang membelah seperti angin yang bisa memotong apapun.

Ryu-kun sangat hebat dalam ilmu pedangnya aku saja kalah. Tapi aku juga jago lho dalam ilmu ninja. Klan Ninja Bayang Merah termasuk ninja terkuat. Dan aku dilatih sejak dari kecil di Gunung Fuji, bertahan dalam kegelapan malam, kelaparan, dan dinginnya cuaca di gunung tersebut.

Aku selalu hormat kepada senpai. Hingga suatu malam Takagi Matsumoto bertemu dengan ayahku Jin Takeda. Aku secara tak sengaja mendengarkan percakapan mereka.

“Takagi-dono, sudah lama juga ya kita tidak menikmati sake seperti ini,” kata otou-san. “Di bawah terangnya bintang-bintang di langit.”

“Iya, sudah lama semenjak kita menghabisi sisa-sisa klan Hanagumo. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Rina-chan?” tanya Takagi-dono.

“Oh, dia baik-baik saja, ilmu ninjanya sekarang maju pesat. Aku jadi tak tahu lagi harus mengajarkan apa. Padahal usianya masih belia,” kata otou-san.

“Ryu juga begitu tak ada lagi yang bisa aku ajarkan. Dia hampir sampai kepada jurus terakhir dari Kaze no Ryu. Sayangnya aku belum berani untuk menurunkan Kaze no Ryuu Tsuki no Kiritoru (Naga angin membelah rembulan) kepadanya. Ia masih anak yang keras kepala. Aku takut kalau sampai aku menurunkn kepada dia, maka dia akan jadi anak yang sombong. Belum aku berikan saja dia sudah meng-KO para jawara.”

“Hahahaha, bukankah itu sama saja denganmu Takagi-kun?”

“Souka, benar juga.”

Keduanya tertawa lepas.

“Tapi, aku ingin persahabatan kita jangan sampai di sini saja Jin-kun.”

“Maksudnya?”

“Bagaimana kalau kedua anak kita, kita jodohkan saja?”

“Hmm?”

“Lagipula bukankah mereka berdua juga sudah akrab satu sama lain? Aku yakin mereka pasti mau.”

“Ryu anak yang keras kepala. Aku tak berani janji tapi idenya cukup menarik. Lalu bagaimana dengan Rina-chan? Apa yang terjadi kalau dia dijodohkan?”

“Kalau soal Rina, kenapa tidak kita tanya langsung saja. Rina-chan?!”

Aku yang sedari tadi menguping kaget. Ternyata ayah mengetahui keberadaanku.

“Otou-san,” aku malu.

“Ahahaahahaha, lihatlah pipinya memerah padahal tidak minum sake,” ejek ayahku.

Aaargghh..! Siapa yang nggak malu? Ryu-kun. Aku juga sudah menyukainya sejak dulu.

Hari ini melihat dia latihan begitu keras, aku jadi heran kenapa dia melakukan itu. Ah, tapi masa bodohlah. Aku tetap senang melihat Ryu-kun berlatih. Keringatnya, aroma tubuhnya, kyaaaaaaaaaaa!

TOK! Kepalaku dipukul oleh pedang kayu milik Ryu-kun.

“Kamu kenapa?” tanya Ryu-kun.

“Oh, nandemo nai,” kataku.

“Tak apa-apa? Koq senyum-senyum sendiri sampai mukanya merah gitu?” kata Ryu. Dia sudah selesai latihan ternyata. “Aku pergi dulu. Ada pertarungan hari in.”

“Heh? Lagi?”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Siapa sih lawanmu kali ini? Koq sepertinya kamu sulit sekali mengalahkannya?”

“Orang yang sangat berarti bagiku.”

“Eh?”

Ryu-kun pergi, tak memberitahuku ia akan kemana. Orang yang sangat berarti bagi Ryu-kun? Siapa? Aku kira akulah orang yang sangat berarti baginya. Ini tak boleh dibiarkan. Aku ingin tahu tentangnya. Aku ingin tahu siapa yang telah merebut hati Ryu-kun.

Aku segera melompat, berlari mengejar Ryu-kun. Dengan jurus meringankan tubuhku, aku bisa melompat tinggi sampai ke atap rumah. Segera aku ikuti Ryu-kun dari jauh. Eh, koq dia perginya ke kota? Mau kemana dia? Aku terus mengikutinya hingga akhirnya sampai di rumah sakit. Rumah sakit? Siapa yang sakit?

Ryu-kun masuk ke sebuah kamar. Aku pun mengikuti sampai di balik pintu. Ada seorang wanita yang tergolek lemah. Dia tersenyum ketika Ryu-kun datang menjenguknya. Dan….oh tidak, Ryu-kun mencium keningnya. Siapa wanita ini? Aku jadi cemburu kepadanya.

“Bagaimana keadaanmu Sakura-chan?” sapa Ryu-kun.

“Aku sudah tak tertolong lagi Ryu-kun, tapi aku tetap semangat. Melihatmu ada di sini aku jadi semangat,” ujar Sakura.

“Aku akan menemanimu lagi hari ini.”

“Aku kasihan melihatmu berada di sini, Ryu-kun. Aku terlalu menyusahkan ya?”

“Ie..tidak. Sama sekali tidak. Bagaimana aku bisa mengatakan ini terlalu menyusahkanku? Aku buat ini untukmu.”

Ryu-kun memberikan bangau kertas kepada Sakura. Seorang perawat melintas, aku segera menariknya.

“Gomen nasai, pasien di kamar itu sakit apa yah?” tanyaku.

“Oh, dia menderita liver. Sepertinya sudah kritis, nyawanya kemungkinan besar tak tertolong lagi,” kata perawat itu.

Aku terkejut. Ryu-kun….? Apakah kamu menyukai dia?

Dan memang benar. Besoknya aku melihat lagi Ryu-kun berada di dalam kamar pasien ini. Dia berada di samping Sakura di saat-saat terakhir dalam hidupnya. Aku melihat semuanya sekalipun Ryu-kun tak mengetahuinya. Apa aku salah selama ini? Apakah perjodohan ini salah selama ini? Ryu-kun. Sakura-chan.

Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat Ryu-kun. Aku pergi dari kehidupannya, menjauh. Rasanya mungkin aku terlalu berharap banyak kepada Ryu-kun, tapi….sekalipun jarakku dekat ternyata aku jauh dari Ryu-kun. Sakura-chan, apa yang menyebabkan kamu disukai oleh Ryu-kun? Aku iri, aku cemburu kepadamu Sakura-chan. Tapi….aku tak tahu aku harus bagaimana.

Kami-sama, apa yang harus aku lakukan?

Bunga Sakura
Andai aku tahu kalau dia menyukaimu

Seharusnya sejak dari dulu aku tak banyak berharap
Kini akankah aku bisa menghadapi malam yang gelap

Ketika mimpi-mimpi kembali hadir
Ketika aku harus menghadapi kenyataan

Sebentar lagi aku akan menghadapi dirinya
Berada di sebuah keputus asaan
Akan harapan akan sebuah cinta

Ryu-kun….
Gomen-ne….
demo…
Daisukida….

Present day

Hari ini, aku mendapatkan tugas di Indonesia, lebih tepatnya di kota Jakarta. Aku bertugas untuk melindungi salah seorang konsulat dan dia juga sekaligus adalah pamanku Shotaro Takeda. Bukan, dia tidak ikut-ikutan menjadi Ninja walaupun ada darah ninja mengalir dalam dirinya. Dia lebih tertarik kepada perpolitikan dan bisnis. Dan aku ditugaskan oleh ayahku untuk mengawalnya selama ada di Indonesia ini. Sekaligus aku diberitahu oleh beliau “Ryu-kun ada di Indonesia”.

Aku tidak pernah bertemu lagi dengan Ryu-kun sejak lama. Bagaimana sekarang dia? Apa yang dia lakukan? Apakah dia masih ingat kepadaku? Apakah ia masih ingat kepada perjodohan keluarga kita? Terus terang sejak dia kehilangan Sakura, aku jadi tahu kalau Ryu-kun sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan yang dibuat oleh ayah kami.

Tapi apakah sekarang berarti kesempatanku sudah tidak ada lagi? Apakah cukup sampai di sini. Aku bingung.

Kabar terakhir dari Ryu-kun. Dia menjadi anggota CCC. Kemajuan. Semuda itu tapi sudah direkrut oleh CCC menjadi seorang agen rahasia. Katanya dia ada misi rahasia untuk mengambil sesuatu di negara ini. Mengambil sesuatu? Sebegitu pentingnyakah sesuatu itu?

Sekalipun ada di negeri ini dan jadi agen rahasia, aku tetap tak tahu dia ada di mana. Tak ada kabar, menghilang begitu saja. Terlebih sejak kehebohan serangan monster beberapa waktu lalu. Pemerintah Indonesia mulai kacau, negara-negara lain pun mulai sedikit demi sedikit bertanya tentang keadaan perekonomian di negeri ini. Ada apa sih sebenarnya? Tapi aku tak peduli, apa peduliku? Aku hanyalah seorang Kunoichi. Aku bertugas untuk mengawal pamanku. Itu saja.

Kami berada di sebuah gedung konsulat. Penjagaan malam ini sangat ketat. Paman Shotaro sedang menandatangani beberapa dokumen. Sedangkan aku berada di dekat beliau, lebih tepatnya dalam jangkauan beliau. Aku ada di sudut ruangan konsentrasi terhadap keadaan yang kini agak mencekam. Paman berkata bahwa apa yang dibawanya bisa berdampak runtuhnya hubungan bilateral antara Jepang dan Indonesia. Maka dari itulah ia tak mau dokumen yang ia bawa ini bisa jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Dan malam ini semuanya pun dimulai. Aku merasakan perasaan yang tidak enak.

“Paman Shotaro, ada yang tidak beres,” ujarku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku periksa dulu,” jawabku.

Segera aku keluar dari ruangan dan berkelebat berjalan di dinding. Menelusuri lorong ruangan dengan cepat hingga sampai di persimpangan. Saat itulah aku lihat seorang dengan baju serba merah dan cadar masuk. Siapa dia? Dia langsung melempari beberapa penjaga dengan pisau. Bahkan para penjaga itu belum sempat berbuat apa-apa. Diikuti dari belakang seorang laki-laki dengan pakaian yang biasa. Biasa karena memang bajunya biasa, celana jeans dan jaket berwarna hitam serta memakai cadar masuk dengan berlari mengikuti orang berpakaian serba merah tersebut.

Aku segera menghadang mereka.

“Anata wa dare (siapa kalian)?” tanyaku.

“Wareware wa Shotaro o korosu tame ni shiyou to shite iru (kami adalah orang yang akan mencabut nyawa Shotaro),” kata orang berbaju merah. Sepertinya dia seorang wanita.

“Boku wa sa semasen (aku tak akan membiarkannya),” ujarku.

Aku segera melemparkan shuriken ke arah keduanya, tapi dengan sigap wanita berpakaian merah itu menembakkan senjata apinya ke arah shuriken yang aku lempar. Dia bisa melakukannya? Bukan orang biasa. Aku pun segera mengeluarkan katanaku dan menyerang dia, tapi seorang lelaki bercadar di belakangnya menahan katanaku.

“Aku lawanmu!” katanya dengan bahasa Indonesia. Aku tahu sedikitlah bahasa mereka.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Red, cepat habisi targetmu dan kita pergi,” katanya.

Aku tak akan membiarkan wanita berbaju merah ini pergi, segera aku hadang dengan sabetan pedangku. Tapi dia bisa melompat dengan indah menghindari sabetan pedangku dan malah aku sekarang diserang oleh lelaki bercadar ini. TRANG! Benturan katanaku dengan….pedang…bukan lelaki ini membawa golok.

Dia terkejut pastinya melihat goloknya ada retakan di matanya. Tentu saja, katanaku adalah pedang dengan kualitas terbaik. Tak akan mungkin bisa dipotong oleh apapun. Celaka, paman Shotaro! Belum sempat aku berbalik lelaki bercadar ini segera menyerangku, bukan dengan golok tapi dengan sesuatu yang belum pernah aku melihatnya. Dia menyapu kakiku, kemudian leherku dipukul uhugk! Sejurus kemudian kepalaku akan dihantam, tapi dengan cepat aku segera berguling menghindari hantamannya.

Ketika lenganku akan menyayat pipinya ia bisa menghindar dariku dengan satu langkah. Satu langkah??

Dia benar-benar hebat. Aku tak mungkin bisa lari dari dia. Dia lawan yang tangguh. Baiklah. Aku akan gunakan seluruh jurus ninjaku untuk menghadapi dia. Dan selamat malam para Assasin. Mimpi buruk kalian adalah aku.

(bersambung….)

Author: 

Related Posts