Cerita Sex Famitha 1: Occulta In Nocte – 1

Cerita Sex Famitha 1: Occulta In Nocte – 1by adminon.Cerita Sex Famitha 1: Occulta In Nocte – 1 Famitha 1: Occulta In Nocte – 1 ..The Night And Me.. Kusibak tirai jendelaku untuk menatap tenggelamnya sang surya ke dalam peraduan-nya. Semburat merah di atas cakrawala menandakan salam perpisahan darinya. Sinarnya kian melemah namun cukup menyilaukan mataku dan mengaktifkan semua indra dalam tubuhku. Serigala dalam jiwaku kembali melolong menuntut bagiannya akan kepuasan, nafsu dan […]

tumblr_nupi5kEztl1u22z14o4_1280tumblr_nupi5kEztl1u22z14o3_1280  tumblr_nupi5kEztl1u22z14o5_1280Famitha 1: Occulta In Nocte – 1
..The Night And Me..

Kusibak tirai jendelaku untuk menatap tenggelamnya sang surya ke dalam peraduan-nya. Semburat merah di atas cakrawala menandakan salam perpisahan darinya. Sinarnya kian melemah namun cukup menyilaukan mataku dan mengaktifkan semua indra dalam tubuhku. Serigala dalam jiwaku kembali melolong menuntut bagiannya akan kepuasan, nafsu dan dahaga. Segera aku berlalu dalam kehampaan untuk berdansa bebas di antara debu-debu kehidupan yang telah berlalu tanpa bisa terhitung olehku.

Malam telah memanggilku untuk kembali bercumbu dengannya. Suatu panggilan yang tidak akan pernah mampu untuk kutolak. Lagipula wanita mana yang mampu menolak godaan sang pangeran untuk bercumbu? Yang jelas malam ini bintang-bintang akan berjatuhan karena cemburu pada kemesraanku dengan-nya. Begitu banyak kesedihan dan kepedihan yang telah kusaksikan bersama rembulan. Saking banyaknya hingga aku berhenti memperhatikannya lagi.

Pukul 22:00

Aku berdiri menatap cermin dan sejenak mengagumi kecantikan fana yang dianugerahkan alam padaku. Cukup lama aku bersolek dan kini telah tampak sosok Famitha yang cantik di depan cermin. Aku begitu merasa beruntung memiliki postur yang tinggi dan sexy menurut pandangan lawan jenisku. Sepasang mata yang bulat dengan bulu mata lentik serta garis alis sempurna yang alami, bibir tipis dan tulang pipi yang tinggi dan sexy menghiasi wajah tirusku. Leherku yang jenjang selalu menjadi sasaran pertama dari para pria untuk mencumbuiku. Pinggang yang ramping serta sepasang kaki ‘belalang’ yang kumiliki menambah daya
tarik seksualku. Ada perasaan malu sendiri mengagumi tubuh fana ini.

Bukankah kecantikan hanyalah setipis kulit dan ‘inner’ beauty adalah sesuatu yang seharusnya dibanggakan? Pertanyaan yang muncul dalam benakku mungkin benar namun biar bagaimanapun daya tarik seksual adalah andalan utamaku (mungkin andalan banyak wanita). Dan sensualitas adalah senjata untuk menaklukan lawan jenisku. Penaklukan itulah yang kuperlukan karena penaklukan adalah awal dari dominasi. Dominasi adalah pintu gerbang untuk suatu yang sangat hakiki buatku yaitu pemenuhan kebutuhan.

Sesaat kemudian aku segera berlalu memasuki suasana malam kota Jakarta. Kota yang tidak pernah tidur (betul sekali.. setidaknya untukku). Cukup indah melihat ribuan lampu bercahaya menghiasi kota ini. Mulai dari lampu-lampu gedung bertingkat, lampu-lampu reklame hingga lampu-lampu mobil yang menyilaukan itu seakan membiusku untuk makin menyelami suasana malam minggu yang ceria.

Kutatap pemandangan sekitarku dan terlihat orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing. Ironis memang justru dalam keramaian aku merasa kesepian. Di sekitarku juga tampak jelas wajah-wajah fana yang kesepian di tengah-tengah keramaian dan kesibukan mereka. Wajah lugu dan kosong dari anak-anak pengemis di lampu merah, tatapan tanpa ekspresi dari pengamen yang menyanyikan kutukan buat dirinya sendiri, atau tawa riang yang dingin dan palsu dari gadis-gadis muda bersama pacar mereka. Akhirnya aku tiba di tempat tujuanku, sebuah diskotik di daerah Sudirman yang menjadi salah satu pusat denyut nadi kehidupan malam kotaku tercinta ini.

..Merciful Dance..

Tubuh-tubuh dibalut busana aneka warna lalu lalang di sekelilingku. Mereka semua tenggelam dalam suasana disko hingga mengacuhkan kehadiranku. Cahaya api rokok di tangan mereka bersinar bagaikan kunang-kunang silih berganti diterpa kilatan cahaya lampu. Katun, polyester, beludru, kulit, dan metal melekat membungkus tubuh mereka. Namun leher-leher itu dibiarkan telanjang hingga aku dapat menatapnya satu- persatu. Merambat dalam udara yang bercampur asap rokok, suara musik membangkitkan semangat mereka. Bagai terhipnotis oleh audio yang membius, mereka terlihat bergoyang seperti lepas kendali.

Sejenak aku merapikan busana agar bagian dadaku makin terlihat membusung indah lalu melangkah maju membaur dengan keramaian di depanku. Aku berjalan perlahan melewati wajah-wajah ceria yang penuh gairah. Para pria yang kulewati melemparkan tatapan penuh keinginan. Mereka memandangku seperti ingin menelanjangi dan menelanku. Bisa kulihat beberapa pria menelan ludah karena hasrat mereka terbakar oleh kehadiaranku. Mereka tidak menyadari kalau aku berjalan bagai seekor serigala di tengah kerumunan domba.

Akhirnya kutemukan sosok yang membangkitkan gairahku. Wajahnya tampan laksana malaikat terang bersinar di antara tubuh2 yang bergoyang. Aku telah memilihnya untuk menjadi pangeranku malam ini. Segera aku beranjak ke arahnya menembus dentuman musik yang menghentak dan kilauan lampu disko yang menyilaukan tanpa menghiraukan senyuman serigala yang tersungging dari mulut para pria yang kulewati. Tatapanku bergerak bebas menikmati sosok tubuhnya. Tubuh atletis yang dibalut kaos lengan panjang itu tampak begitu halus namun liat dan bertenaga. Lehernya yang kokoh dan telanjang itu bergerak menopang gerakan kepalanya mengikuti irama musik. Aku mengusap butiran keringat yang mengalir di tengkuk-nya dengan jari telunjuk-ku.

Tidak kuhiraukan tatapan protes penuh kebencian dari gadis yang berdansa dengannya. Dia membalikan badannya ke arahku dan menatapku untuk pertama kalinya. Tatapan itu cukup membuatnya melupakan gadis yang tadi berdansa dengannya. Dia kelihatan terkejut namun sebelum akalnya bereaksi, pesonaku sudah terlebih dulu menguasai segenap kesadarannya. Kuraih tangannya lalu menariknya lebih dekat kepadaku.

Dia tampak tidak berdaya oleh pesonaku. Dapat kurasakan kehangatan tubuhnya merasuki diriku mengalir melalui genggaman tangannya. Jiwa kosong dalam diriku bersorak ketika aliran kehidupan menyentuhnya. Hangatnya tubuh lelaki di depanku membuat jiwaku menjerit minta dipuaskan dari dahaga yang telah dialaminya. Aku benar-benar haus dan ingin sekali memuaskan dahagaku dengan pria ini namun entah kenapa aku tak sanggup menyakitinya.

Aku hanya berdiri bagai patung di depan pria tampan yang sudah terhipnotis oleh pesonaku tanpa sanggup berbuat apa-apa. Surga dan neraka terasa bergolak dalam kalbuku karena aku tidak sanggup membuatnya menjadi seperti diriku.. aku tidak atau belum sanggup mengambil hidupnya dan menghadiahkan keabadian baginya. Tidak tega rasanya memuaskan dahagaku sambil menyaksikan pria ini memasuki maut dengan tersiksa. Akhirnya aku hanya menikmati berdansa dengannya dan ikut menyatu bersama kumpulan manusia yang bergoyang di bawah perintah irama musik. Sepertinya musik menjadi satu-satunya penakluk di situ. Kucium bibirnya lalu berlalu meninggalkannya.. meninggalkan rasa dahagaku yang kian menumpuk.

Pukul 23:40

Baru saja aku hendak memasuki mobilku ketika tiba-tiba tanganku digenggam dari belakang oleh sesuatu yang hangat dan lembut. Aku membalikan tubuhku dan melihat raut wajah pria tadi yang dipenuhi kepasrahan dan hasrat. Rupanya pesona yang kutanamkan dalam dirinya begitu kuat hingga mendorongnya untuk menyusulku.

Sejenak aku menatap wajahnya dengan penuh perhatian. Ada sesuatu dalam diri pria ini yang menarik minatku. Sesuatu yang lebih dalam dari sekedar ketampanan dan daya tarik fisik. Aku merasakan kesedihan dan kepahitan yang sangat dalam dari jiwa malang yang sedang meronta dari balik kulit dan daging fana di hadapanku ini. Baru kali ini aku merasa ragu-ragu akan apa yang harus kuperbuat. Aku telah memutuskan untuk melepaskannya namun dia justru datang mengikutiku. Tanpa kusadari aku telah mulai terpikat olehnya. Terpikat oleh sesuatu dalam dirinya dan bukan oleh darahnya. Aku heran karena pada saat seperti ini hasrat seksualku lebih dominan daripada hasratku memangsanya.

“Ikut aku,” kataku dengan suara lirih namun cukup kuat untuk memerintahkannya masuk ke dalam mobilku bagai seorang gembala menuntun dombanya memasuki kandang. Sesaat kemudian kamipun sudah berada dalam mobilku dan segera meninggalkan pelataran parkir tempat itu.

“Siapa nama kamu?”
“Romeo,” dia menjawab dengan suara datar.
“Kamu tadi sama siapa?” tanyaku lagi sambil memikirkan apa yang akan kuperbuat terhadapnya.
“Aku datang sama teman-teman kuliahku.”
“Cewek yang sama kamu tadi siapa?”
“Aku baru ketemu di sana dan belum sempat tanya namanya.”

Aku menghela nafas panjang karena lega mengetahui kalau wanita yang bersamanya tadi bukan siapa-siapanya.

“Nama kamu siapa?” pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu dan cukup mengejutkan aku. Rupanya walaupun dia berada dalam pengaruhku dia masih mampu berinteraksi dengan cukup baik.

“Kenapa mau tau?”
“Hmm.. saya merasa kita sudah kenal lama tapi aku belum tahu nama kamu,” kata Romeo menunjukan reaksi umum dari setiap pria yang berada dalam pengaruhku. Semuanya merasa kalau mereka sudah kenal lama denganku. Itu bagian dari karunia yang diberikan oleh keabadian untukku.

“Namaku Famitha.. ingat itu.. ingat selalu namaku.”
“Kita mau ke mana?” kata Romeo dengan ekspresi linglung.

Dia tampak begitu canggung akan keadaan sekelilingnya dan hanya memusatkan perhatiannya padaku. Aku memang telah berhasil mengusai hasratnya dan sebagai seorang pria hasratnya padaku tentu hanya yang satu itu.

“Romeo.. kamu mau kita kemana?” kataku balik bertanya sekaligus memancingnya untuk mengutarakan keinginannya. Amatlah mudah bagiku menebak jawabannya dan tinggal mengarahkannya dengan pertanyaanku saja.

“Saya ingin berdua saja dengan kamu.. bawa saya kemana saja,” ucapannya itu membuat jantungku berdebar (terus terang biasanya jantungku berdetak-pun jarang namun Romeo telah berhasil membuatnya berdebar kencang!). Itu adalah jawaban yang biasa saja namun aku merasa telah tertarik padanya dalam hal yang lain dari biasanya.

Romeo-pun menoleh kearahku dan memandang wajahku dengan lekat mambuatku jadi risih padanya. Kurasakan wajah pucatku bersemu merah dan perasaan aneh mulai menjalari tubuhku. Telah begitu lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Aku merasakan seorang pria menatapku sebagai wanita seutuhnya dan bukan tatapan kosong penuh nafsu dari pria yang telah menjadi mangsaku sebelumnya. Rasa ego-ku otomatis berusaha membela diri karena tidak biasanya aku merasa seperti ‘luluh’ di hadapan mangsaku. Aku menatapnya balik dengan tatapan penuh dominasi dan intimidasi namun begitu mataku bertemu dengan tatapan halus penuh penyerahan dari Romeo, seketika itu aku merasa terjerat oleh pesonanya.

Ada suatu kemesraan yang unik terjalin di antara kami berdua dan kemesraan itu langsung merangsang hormon kewanitaanku
untuk bereaksi. Metabolisme tubuhku yang berbeda dengan wanita normal pada umumnya segera membuatku dilanda erotisme yang sangat dahsyat. Sekujur kulitku merinding dan aku merasakan bagian kewanitaanku dipenuhi oleh cairan kenikmatan. Romeo sendiri walau masih berada di bawah pengaruhku mulai menampilkan reaksi umum dari pria yang dibakar oleh seksualitas.
Tangannya bergerak dan menyentuh pahaku. Dia mulai membelai pahaku dengan halus dan penuh rangsangan. Aku hampir tidak sanggup mengemudi karena menerima rangsangan yang hebat dari sensualitas yang secara tiba-tiba menguasai diriku. Aku segera mengarahkan mobilku ke sebuah hotel yang terletak di daerah Menteng.

Ke bagian 2

Author: 

Related Posts